Sebagai Muslim paling tidak kita merasakan bahwa Ramadan adalah bulan yang begitu berharga lagi mulia dengan kemuliaan yang tak tertandingi oleh bulan-bulan lainnya.
Dalam bulan tersebut terdapat berjuta keutamaan mulai dari dilipatgandakannya pahala ibadah pada bulan ini, jika dibandingkan bulan-bulan lainnya. Sampai dengan keutamaan malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.
Namun, berjuta kebaikan tersebut seakan sirna begitu saja. Kita lihat, begitu banyak orang yang menghabiskan Ramadan yang mereka lalui hanya dengan tidur dan begadang.
Mereka habiskan waktu malam dengan begadang bermaksiat ataupun salat tarawih dengan tujuan untuk ‘tebar pesona’. Tak heran, ketika tarawih usai atau berlalunya Ramadan kemaksiatan pun kembali digelar.
Berangkat dari keprihatinan tersebut buku berjudul Ramadan Agar Tak Sekedar Lapar dan Dahaga yang ditulis oleh DR. A’idh Al Qarni seorang tokoh ulama sekaligus penulis buku-buku laris, menggoreskan renungan-renungannya yang mendalam terhadap fenomena terlantarkannya bulan Ramadan.
Penulis mencoba mengajak kita menggali makna-makna terpendam bulan Ramadan yang telah terlupakan demi meraih kemuliaannya, dengan menggunakan metode perenungan, muhasabah (introspeksi) yang tenang dan bahasa yang teduh dan mengalir.
Alur pembahasan yang ringkas tetapi tidak dangkal dan tetap berpijak pada Al-Qur’an dan As-sunnah menjadikan pembaca yakin bahwa buku ini begitu bermanfaat. Karena Ramadan bukan sekedar menahan lapar dan dahaga. Namun berpuasa seluruh anggota indranya.
Tinggalkan Balasan